Artikel Islami

4 Ciri orang yang sukses menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan

4 Ciri Orang yang Sukses dalam Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah yang paling dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Selama bulan suci ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal ibadah mereka. Namun, menjalankan ibadah puasa bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, keteguhan, dan komitmen yang tinggi untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan sempurna. Namun, pada kenyataannya tak semua umat muslim bisa mendapatkan limpahan pahala dari Allah swt bahkan sekalipun ia telah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Hal ini seperti tertuang dalam sabda Rasulullah yang berbunyi: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad) Lalu, siapakah yang berhak mendapatkan limpahan rahmat dari Allah SWT? Jawabannya adalah umat muslim yang bertakwa yang mampu meraihnya. Hal ini sebagaimana tertulis dalam QS Al-Baqarah Ayat 183 yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa Ramadan selama satu bulan penuh ibarat ujian bagi umat muslim. Barang siapa yang berhasil menjalaninya maka ia akan mendapat kemenangan. Ada beberapa ciri khas yang menunjukkan seseorang berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan baik. Berikut ini adalah empat ciri orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Baca Juga : Apa itu fidyah, syarat dan ketentuan yang harus dipenuhinya Kesadaran Spiritual yang Tinggi Orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan biasanya memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. Mereka memahami bahwa puasa bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang meningkatkan hubungan dengan Allah SWT. Kesadaran spiritual ini mendorong mereka untuk selalu ingat dan mengingat Allah dalam setiap langkah dan tindakan mereka selama bulan Ramadhan. Kesadaran spiritual ini juga membuat mereka lebih mudah merasakan kehadiran Allah dalam hidup mereka. Mereka lebih tekun dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah seperti shalat tahajjud, membaca Al-Qur’an, dan berzikir. Dengan kesadaran spiritual yang tinggi, mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan khusyu. Disiplin dan Keteguhan Orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan juga biasanya memiliki tingkat disiplin dan keteguhan yang tinggi. Mereka mampu menahan diri dari segala godaan yang dapat mengurangi pahala puasa mereka, seperti godaan untuk makan atau minum secara sembunyi-sembunyi, atau godaan untuk meninggalkan shalat tarawih. Disiplin ini juga tercermin dalam kebiasaan sehari-hari mereka. Mereka bangun tepat waktu untuk sahur, mengatur jadwal berbuka puasa dengan tepat, dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Keteguhan mereka dalam menjalankan ibadah puasa membuat mereka mampu mengatasi segala rintangan dan hambatan yang mungkin muncul selama bulan Ramadhan. Kebaikan dan Kemurahan Hati Orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan juga biasanya memiliki hati yang penuh dengan kebaikan dan kemurahan. Mereka lebih sadar tentang kebutuhan orang lain, terutama mereka yang kurang mampu atau membutuhkan bantuan selama bulan Ramadhan. Mereka seringkali menggunakan kesempatan ini untuk berbagi rezeki dengan orang lain, seperti dengan memberikan makanan kepada yang membutuhkan, menyumbangkan infak atau zakat, atau melakukan kegiatan amal lainnya. Kebaikan dan kemurahan hati ini tidak hanya menambah pahala ibadah puasa mereka, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan dalam masyarakat. Hal ini sebagaimana tertuang dalam QS Ali Imran Ayat 134 yang berbunyi: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Baca juga : Sedekah Setiap Hari Introspeksi dan Refleksi Diri Orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan juga sering melakukan introspeksi dan refleksi diri. Mereka menggunakan waktu selama bulan Ramadhan ini untuk mengevaluasi diri mereka sendiri, memperbaiki kesalahan yang telah mereka lakukan, dan merencanakan langkah-langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Introspeksi dan refleksi diri ini membantu mereka untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal ibadah mereka. Mereka lebih mudah menyadari kelemahan dan kekurangan yang ada dalam diri mereka, dan berusaha untuk mengatasinya dengan tekun dan konsisten. Kesimpulan Menjalankan ibadah puasa Ramadhan membutuhkan komitmen, kesabaran, dan ketekunan yang tinggi. Orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan biasanya memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, disiplin dan keteguhan yang kuat, hati yang penuh dengan kebaikan dan kemurahan, serta kebiasaan untuk melakukan introspeksi dan refleksi diri. Dengan mengembangkan empat ciri ini, kita dapat meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT selama bulan Ramadhan ini. Semoga kita semua dapat menjadi orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan, dan mendapatkan keberkahan serta rahmat dari Allah SWT. Aamiin.

Persyaratan mudik yang boleh tidak berpuasa menurut Ust Adi Hidayat

Temanbaik, Idul Fitri sebentar lagi tiba, sudah menjadi tradisi dimasyarakat kita untuk mudik, pulang ke kampung halaman bertemu dengan orang tua dan saudara. Dalam islam diatur tentang keringanan untuk tidak berpuasa bagi orang yang melakukan safar, lalu kriteria mudik Dalam kanal youtubenya Ust Adi Hidayat menyampaikan “Safar tidak diikat dengan mudik. Safar adalah perjalanan jauh yang ditempuh secara waktu kisarannya 80 km, kurang lebih 80 km,” ucap Ustadz Adi Hidayat. Ustadz Adi Hidayat menambahkan, maka jika bepergian mudik jarak jauh yang jaraknya melebihi 80 km, maka itu disebut dengan safar. Dengan jarak yang demikian ini berlaku juga hukum qashar dalam sholat. Lantas, apakah safar yang demikian memperbolehkan kita juga untuk tidak berpuasa? Ustadz Adi Hidayat kemudian menjelaskan bahwa belum tentu safar yang demikian memperbolehkan kita untuk tidak berpuasa atau batal puasa. Sebab, ulama pun menyebutkan ada dua pertimbangan seseorang boleh tidak berpuasa. Adapun dua pertimbangan tersebut sebagai berikut jarak perjalanan dan keadaan sulit dalam perjalanan. Ustadz Adi Hidayat lalu memberikan contoh dalam sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa ada seseorang yang sedang melakukan perjalanan dan dia tiba-tiba kelelahan, kemudian dia duduk di bawah pohon. Lalu, Rasullulah SAW bertanya padanya: “Kenapa Anda begini (duduk di bawah pohon)?” Seseorang itu menjawab: “saya sedang berpuasa.” Baca Juga: Apakah uang THR wajib dikeluarkan zakatnya Rasulullah SAW pun lantas berujar bahwa hal yang demikian tidak baik dilakukan jika sedang puasa dalam kondisi safar. Atas dasar ini, para ulama pun membolehkan bagi yang sedang melalukan perjalanan safar untuk batal puasanya jika itu terasa berat. Namun beda kondisinya apabila sedang mudik jarak jauh, namun sepanjang perjalanan merasa nyaman serta tak mendapati kesulitan. Misalnya, mudik menggunakan pesawat, maka hal ini masih bisa diusahakan untuk tetap berpuasa. “Jika Anda bepergian, misal ke Semarang jaraknya jauh tapi menggunakan pesawat, artinya Anda nyaman, itu tidak boleh batal puasa,” terang Ustaz Adi Hidayat. Sebelum mudik pastikan kewajiban zakat mal kita dan zakat fitrah keluarga sudah ditunaikan. Mudik Tenang jika sudah menunaikan zakat, tunaikan zakat melalui Lembaga Amil Zakat Resmi LAZISNUR 

Ramadhan segera tiba tapi belum bayar hutang puasa bagaimana solusinya

Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat Islam. Setiap tahunnya, umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Namun, seringkali ada situasi di mana seseorang belum sempat melunasi utang puasanya dari tahun sebelumnya ketika Ramadhan tiba kembali. Bagaimana pandangan dan nasihat dari para imam mazhab terkait hal ini? Mari kita eksplorasi bersama. Para ulama sepakat bahwa masa yang telah ditetapkan untuk melakukan qadha puasa Ramadhan yang terlewat adalah setelah habisnya  Ramadhan sampai bertemu lagi di Ramadhan tahun depan. Hal itu merujuk pada dalil yang didasarkan pada firman Allah SWT sebagai berikut ini: Sholat Malam dan Qiyamul Lail adalah Jalan Sunyi Para Nabi Proses Baiat Utsman Bin Affan Sebagai Khalifah Menurut Imam Bukhari Penghafal Alquran Terpilih Sebagai Ketua GP Ansor DKI Jakarta شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah 185) Ustadzah Maharati Marfuah Lc dalam bukunya berjudul Qadha dan Fidyah Puasa menjelaskan, para ulama berbeda pendapat jika selama setahun sampai bertemu lagi bulan Ramadhan di tahun depan ada seseorang yang belum melaksanakan qadha. Baca juga : Apa itu fidyah, syarat dan ketentuan yang harus dipenuhinya Mazhab Al-Hanafiyah Menurut Az-Zaila’i, salah satu ulama dari kalangan Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan, jika seseorang memiliki tanggungan puasa yang belum diqadha sampai datang bulan Ramadhan berikutnya, maka dia berpuasa untuk Ramadhan kedua. Karena waktu tersebut adalah waktu untuk puasa yang kedua, dan tidak diterima puasa selainya (puasa Ramadhan kedua). Kemudian setelah itu baru melakukan qadha puasa Ramadhan tahun lalu. Karena waktu tersebut adalah waktu qadha, dan tidak wajib membayar fidyah. Ustadzah Maharati mengatakan, bisa disimpulkan teks di atas menurut Az-Zaila’i, jika seseorang memiliki hutang puasa pada Ramadhan yang telah berlalu dan belum dibayar (qadha) sampai datang Ramadhan selanjutnya, maka (di bulan Ramadhan itu) dia belum boleh melakukan qadha. “Dia harus berpuasa dulu untuk Ramadhan tahun tersebut. Kemudian setelah bulan Ramadhan berlalu baru melakukan qadha puasanya, dan tidak wajib baginya membayar fidyah,” kata Ustazah Maharati dalam bukunya yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing. Mazhab Al-Malikiyah Ibnu Abdil Barr salah satu ulama rujukan dalam Mazhab Al-Malikiyah di dalam kitabnya menulis seperti ini. Seseorang yang mempunyai kewajiban puasa Ramadhan kemudian tidak puasa dan mengakhirkan qadha sampai masuk Ramadhan berikutnya, sedangkan ia mampu untuk melakukan qadha (sebelum datang Ramadhan kedua), maka jika dia tidak puasa pada Ramadhan tersebut wajib baginya melakukan qadha hari-hari yang ditinggalkanya dan memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan satu mud dengan ukuran mud Nabi Muhammad SAW. “Intinya beliau (Ibnu Abdil Barr) memiliki pandangan berbeda dengan umumnya ulama mazhabnya. Beliau justru mewajibkan fidyah ketika tidak ada udzur dalam penundaanya,” jelas Ustadzah Maharati. Baca juga: Amalan sunah menyambut bulan Ramadhan Mazhab Asy-Syafiiyah An-Nawawi yang merupakan mujtahid murajjih dalam Mazhab Asy-Syafiiyah menulis dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut. Ketika seseorang menunda qadha sampai masuk Ramadhan berikutnya tanpa udzur maka dia berdosa, dan wajib baginya berpuasa untuk Ramadhan yang kedua, dan setelah itu baru melakukan qadha untuk Ramadhan yang telah lalu. Juga wajib baginya membayar fidyah untuk setiap hari yang ia tinggalkan dengan hanya masuknya Ramadhan kedua. Yaitu satu mud makanan beserta dengan qadha. “Beliau (An-Nawawi) berpendapat wajib qadha sekaligus membayar fidyah karena menunda qadha sampai masuk Ramadhan berikutnya, dan menganggap pelakunya telah berdosa ketika melalaikan qadha’ tanpa ada udzur syar’i,” ujar Ustadzah Maharati. Mazhab Al-Hanabilah Ibnu Qudamah salah satu faqih dari kalangan madzhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut. Ketika seseorang mengakhirkan qadha, bukan karena udzur, sampai melewati dua Ramadhan atau lebih, maka tidak wajib baginya kecuali qadha dan fidyah. Ibnu Qudamah berpendapat bahwa penundaan qadha sampai Ramadhan berikutnya mewajibkan membayar fidyah, yaitu jika dilakukan tanpa udzur. Mau menunaikan fidyah bisa melalui Lazisnur, lembaga amil zakat Resmi

Apa itu fidyah, syarat dan ketentuan yang harus dipenuhinya

Pengertian Fidyah: Fidyah merupakan salah satu kewajiban dalam agama Islam yang menyangkut pembayaran kompensasi atau denda kepada mereka yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa Ramadan. Meskipun puasa adalah kewajiban setiap Muslim dewasa dan sehat, ada beberapa kondisi yang memungkinkan seseorang untuk tidak berpuasa. Fidyah menjadi solusi bagi mereka yang tidak mampu melaksanakan puasa dengan alasan tertentu. Syarat-Syarat Wajib Fidyah: Tidak Mampu Berpuasa: Syarat utama untuk membayar fidyah adalah ketidakmampuan seseorang untuk menjalankan puasa. Ini bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan atau kondisi lain yang membuat seseorang tidak bisa berpuasa tanpa merugikan kesehatannya. Penyakit Kronis: Orang yang menderita penyakit kronis yang membuatnya tidak mampu berpuasa selama satu bulan penuh dapat membayar fidyah. Hal ini mencakup penyakit-penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan lain yang memerlukan perawatan terus-menerus. Kehamilan dan Menyusui: Wanita hamil atau menyusui yang khawatir puasa akan membahayakan dirinya sendiri atau bayinya, dapat membayar fidyah. Hal ini sesuai dengan pertimbangan kesehatan bagi ibu dan anak. Usia Tua: Orang tua yang sudah lanjut usia dan tidak mampu menjalankan ibadah puasa juga termasuk dalam kategori yang dapat membayar fidyah. Kondisi kesehatan yang melemah seiring bertambahnya usia bisa menjadi alasan untuk tidak berpuasa. Tidak Ada Harapan Sembuh: Jika seseorang mengalami penyakit atau kondisi kesehatan yang tidak memiliki harapan untuk sembuh atau membaik, dia dapat membayar fidyah sebagai gantinya. Orang meninggal:  Orang meninggal juga termasuk ke dalam kategori yang harus menunaikan fidyah. Dalam kategori ini, ada wali atau orang yang masih hidup untuk membantu membayarkan fidyah sesuai ketentuan. Berdasarkan fiqih Syafi’i, kategori ini terbagi ke dalam dua jenis, di antaranya: 1). Orang meninggal yang tidak wajib difidyahi karena disebabkan oleh uzur atau tidak memiliki kesempatan untuk mengganti utang puasa. Misalnya, ketika seseorang mengalami sakit hingga ia meninggal dunia. 2). Orang meninggal yang wajib difidyahi karena sebelumnya masih memiliki kesempatan untuk mengganti puasa, tetapi tidak dilakukan. Sehingga ahli waris atau wali harus membayarkan fidyah menggunakan harta peninggalan orang yang meninggal jika memang mencukupi. Namun, mengacu pada beberapa pendapat, ada juga yang menyebutkan bahwa ahli waris atau wali boleh memilih antara membayar fidyah atau melaksanakan puasa untuk orang yang meninggal tersebut. Baca juga : Perdagangan yang tidak akan merugi tadabur Surat Al Fatir ayat 29 Dalil-Dalil Fidyah dalam Al-Quran dan Hadis: Dalil Al-Quran: Aturan pembayaran fidyah ini pun tertuang dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 184 yang berbunyi: “…..Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Hadis Rasulullah SAW: Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada fidyah bagi seseorang yang mampu berpuasa, kecuali karena alasan perjalanan atau sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim) Penjelasan Ulama: Ulama memberikan penjelasan lebih lanjut terkait syarat-syarat fidyah berdasarkan hadis-hadis Rasulullah SAW. Mereka memberikan pemahaman mendalam mengenai kondisi-kondisi di mana fidyah dapat dikeluarkan.Baca Juga : Amalan sunah menyambut bulan Ramadhan Ketentuan Pembayaran Fidyah: Jumlah Fidyah: Jumlah fidyah yang harus dibayar adalah sebesar nilai makanan pokok yang setara dengan satu hari berpuasa. Nilai ini dapat berubah tergantung pada kondisi ekonomi dan geografis setiap daerah. Makanan Pokok Lokal: Sebaiknya fidyah dibayar dalam bentuk makanan pokok lokal yang umumnya dikonsumsi di wilayah tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat setempat. Diberikan kepada Yang Membutuhkan: Fidyah sebaiknya diberikan kepada mereka yang membutuhkan, seperti fakir miskin atau orang-orang yang sedang dalam keadaan kesulitan ekonomi. Memberikan fidyah kepada orang yang berhak mendapatkannya merupakan bagian dari konsep zakat dan kepedulian sosial dalam Islam. Waktu Pembayaran: Fidyah dapat dibayar sebelum atau selama bulan Ramadan, tetapi sebaiknya segera setelah mengetahui bahwa seseorang tidak dapat berpuasa. Pembayaran fidyah yang cepat akan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh yang membutuhkan lebih awal. Cara Membayar Fidyah: Seperti yang diketahui, fidyah bisa dilakukan dengan cara membayar sejumlah uang untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Pembayaran ini bisa Anda lakukan melalui lembaga amil zakat Lazisnur. Besaran fidyah yang perlu dibayarkan minimal sebesar 1 mud, atau setara dengan 3/4 liter makanan pokok. Ada pula ulama yang mengatakan, besaran fidyah sebanyak 2 mud atau setara 1,5 kg makanan pokok. Ada pula yang mengatakan sebanyak 1 sha atau setara dengan 2,75 liter makanan pokok. Namun, lebih baik membayarnya dengan memberikan makan orang miskin cukup untuk sehari makan (3x sehari) dengan porsi yang cukup mengenyangkan. Jadi fidyah disesuaikan dengan harga satu porsi makanan yang standar yang berlaku. untuk nominal fidyah di Lazisnur Rp45.000 untuk 3x makan mustahik dalam sehari, lengkap dengan lauk. KLIK link ini untuk membayar fidyah : Bayar Fidyah Kesimpulan: Fidyah merupakan salah satu bentuk rahmat dan kemudahan yang diberikan Islam bagi mereka yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa Ramadan. Dengan memahami syarat-syarat, ketentuan, dan cara membayar fidyah, umat Muslim dapat melaksanakan kewajiban agama mereka dengan penuh tanggung jawab dan kepedulian sosial. Semoga pemahaman mendalam tentang fidyah ini dapat membantu meningkatkan kesadaran umat Muslim dalam menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran Islam.

Perdagangan yang tidak akan merugi tadabur Surat Al Fatir ayat 29

Tadabur ayat Al Quran, salah satunya tentang Surat Fatir ayat 29. اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُونَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” Kata  يَتْلُونَ (yathluuna) dalam ayat tersebut berasal dari kata tala memilki arti tilawah. Tilawah sendiri ada tiga makna dalam menafsirkan. Pertama makna lafdziyyah yaitu membaca lafadznya. Kedua makna maknawiyah adalah membaca maknanya dan mentadaburi artinya bukan sekedar membaca. Ketiga makna hukmiyah yang berarti  mengamalkan isi kandungannya. Di dalam Quran dikatakan dalam surat Al An’am ayat 160. “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).” “Barangsiapa melakukan kebaikan, Allah akan balas 10x lipat. Percayakah kita dengan janji Allah tersebut? Pernah kah kita bersedekah? Apakah Allah balas 10x atau sesuai kebutuhan?”, tanya Ustadz Suherman kepada para jamaah mabit di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta malam itu. Beliau melanjutkan pembahasan bahwa balasan sedekah dari Allah tidak terbatas materi. Bisa jadi kesehatan atau keselamatan dari musibah yang nilainya lebih dari sedekah yang dikeluarkan. Meskipun secara tertulis Allah mengatakan akan dibalas 10x lipat, namun makna yang dimaksud Allah membalas sesuai kebutuhan hambanya. Itu berarti bisa lebih, bahkan bisa 100x lipat sesuai kebutuhan. Dalam ayat lain, surat An Nisa ayat 123. “Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” Abu Bakar pernah bertanya ke Rasul tentang ayat tersebut. “Apakah setiap keburukan akan Allah balas?”. “Ya”, jawab Rasulullah. “Bukankah kau pernah merasakan kesedihan, kepedihan atau kesakitan?”, lanjut Rasul. “Itulah bentuk balasan dari dosa”, jelas Rasulullah. Misalnya, kita sering sakit kepala. Bisa jadi ada dosa seputar kepala. Seperti su’udzon atau buruk sangka. Bisa jadi sakit mata yang kita rasakan, adalah karena kita telah lalai dari menundukan pandangan. Itulah contoh tilawah maknawiyah (hukmiyah), mengaitkan makna dalam Al Quran dengan kehidupan. Baca juga : Amalan sunah menyambut bulan Ramadhan Lanjutan dari ayat 29 surat Fatir tadi, “Mereka yang selalu tilawah dan menegakkan sholat”. Maksudnya menegakkan sholat, tidak hanya sekedar mengerjakan namun sholat yang berkualitas. Jika sholatnya bagus akan berdampak baik pada kehidupan. Lalu apa yang dimaksud dengan perdangan yang tidak rugi dalam Surat Fatir ayat 29 tersebut? Pertama, balasan hasanah (kebaikan) dari baca tiap huruf Al quran. “Kata ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu khasanah (kebaikan). Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi). Apakah makna khasanah/kebaikan itu? Pertama manfaat hasanah dalam kehidupan dunia. Diantara bentuk hasanah adalah menjadikan pribadi yang sholeh, keluarga yang sholeh, lingkungan yang baik, rezeki yang berkah, wafat khusnul hatimah. Sedangkan manfaat khasanah di akhirat diantaranya,selamat dari siksa kubur dan dari api neraka. Semua kebaikan yang didapatkan baik di dunia maupun akhirat sumbernya dari khasanah yang Allah berikan. Yang kedua, yang dimaksud perdangan yang tidak merugi dalam Fatir: 29 adalah Allah ampuni dosa dari tiap hasanah yang didapat dari membaca Al Quran. Ada tiga dampak dosa bagi kehidupan. Pertama Allah biarkan. Semakin banyak dosa yang diperbuat semakin banyak noda hitam di hati, semakin sulit beribadah. Jangan iri pada mereka yang tidak taat tapi hidupnya terlihat makmur. Hati-hati ini bisa jadi Allah sedang membiarkannya. Seperti halnya Firaun, hidupnya penuh kemewahan dan tidak pernah sakit, namun Allah melaknatnya. Kedua istidraj, yaitu Allah angkat untuk dijatuhkan. Misal, saat taat bisnis sulit, namun saat tidak taat bisnis justru lancar. Bisa jadi itu istidraj. Jangan-jangan dalam bisnis tersebut ada yang tidak berkah. Jika ada musibah, maka bertafakurlah atas dosa yang telah dilakukan. Allah tidak akan menimpakan musibah kecuali karena dosa yang diperbuat manusia. Yang ketiga adalah tazim, dosa jadi terasa indah dan merasa bahagia dengan melakukan dosa tersebut. Ini adalah tipu daya setan. Misal, saat pacaran merasa bahagia tapi saat menikah merasa tak seindah saat pacaran. Dampak dosa yang terakhir adalah mati su’ul khatimah. Makna perdagangan yang tidak merugi selanjutnya adalah semakin bertambah kuantitas bacaan Al Quran, bertambah pula pahala. Asalkan bukan hanya tilawah lafdziyah saja tapi juga dengan maknanya. Setiap hari kita berbisnis dengan Allah. Berapa banyak dosa yang kita lakukan dan berapa banyak pahala yang kita dapatkan? Apakah hari ini kita untung dengan pahala yang didapat lebih banyak dari dosa atau sebaliknya berarti kita merugi? Keuntungan lain yang Allah berikan bagi yang senantiasa baca Al Quran yakni Allah mengangkat derajatnya menjadi keluarga Allah di dunia. Jika sudah jadi keluarga, tentu selalu diberikan yang terbaik. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. ‘ Beliau SAW ditanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau SAW menjawab, ‘Mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).” Baca juga: Keutamaan Infaq Subuh, Meraih berkah diawal pagi Ahli quran juga disejajarkan kedudukannya dengan malaikat. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala” Orang yang mahir dalam hadits ini bisa diartikan yang menghapal Al Quran, tapi juga ada yang mengartikan senantiasa membaca Al Quran dengan memahami maknanya. Keutamaan membaca Al Quran lainnya, dikatakan bahwa Al Quran mengangkat derajat manusia di surga. “Dikatakan kepada penghafal Alquran: “Bacalah, naiklah dan baca secara tartil. Seperti engkau membaca tartil di dunia. Karena kedudukanmu berada di akhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari Amr bin Ash) Itulah keutamaan orang-orang yang  يَتْلُونَ(yathluuna). Mereka yang tidak hanya senantiasa membaca Al Quran, namun juga memahami makna dan berusahan mengamalkannya. ( Disarikan dari ceramah : Ustadz Suherman Ar-Rozi )

Apa Itu Self Sabotage, dan dampaknya bagi karir anda, bagaimana pandangan islam

Dalam perjalanan karir seseorang, ada momen ketika kita bisa menjadi penghalang terbesar bagi diri kita sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai self sabotage atau sabotase diri. Self sabotage merujuk pada perilaku yang sengaja atau tidak sengaja menghambat kemajuan dan kesuksesan pribadi seseorang. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai self sabotage, dampaknya terhadap karir, dan bagaimana perspektif Islam dapat memberikan pandangan yang berharga untuk mengatasi fenomena ini. Apa Itu Self Sabotage? Self sabotage adalah suatu bentuk perilaku atau keputusan yang kita ambil yang secara tidak langsung merugikan diri sendiri. Ini bisa berupa kebiasaan meremehkan diri, menunda-nunda pekerjaan, atau bahkan menghindari peluang sukses. Self sabotage dapat muncul dari berbagai penyebab, termasuk kurangnya keyakinan diri, trauma masa lalu, atau rasa takut terhadap kegagalan. Dalam konteks karir, self sabotage dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk seperti ketidakpercayaan diri yang berlebihan, prokrastinasi, atau bahkan menghindari tanggung jawab yang seharusnya diemban. Memahami sumber dan bentuk-bentuk self sabotage ini adalah langkah awal untuk mengatasi dan mencegah dampak negatifnya. Dampak Self Sabotage Terhadap Karir Keterhambatan Kemajuan Karir: Salah satu dampak utama self sabotage adalah keterhambatan kemajuan dalam karir. Ketika seseorang terus menerus menunda-nunda atau meremehkan diri sendiri, peluang untuk meraih posisi lebih tinggi atau mencapai tujuan karir menjadi semakin kecil. Pengaruh Terhadap Produktivitas: Self sabotage seringkali mengakibatkan penurunan produktivitas. Prokrastinasi atau rasa takut terhadap kegagalan dapat menghambat kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien dan mencapai target yang ditetapkan. Kurangnya Kepuasan Pribadi: Ketika seseorang terus-menerus menghambat dirinya sendiri, itu dapat menyebabkan kurangnya kepuasan pribadi terhadap pekerjaan yang dilakukan. Kesenjangan antara potensi sebenarnya dan pencapaian aktual dapat menciptakan rasa tidak puas yang berkepanjangan. Gangguan pada Hubungan Kerja: Self sabotage dapat menciptakan ketegangan dalam hubungan kerja. Ketidakpercayaan diri atau keengganan untuk mengambil tanggung jawab dapat membuat orang sulit bekerja sama dalam tim atau membangun hubungan profesional yang kuat. Baca Juga : Amalan sunah menyambut bulan Ramadhan Perspektif Islam tentang Self Sabotage Dalam Islam, konsep self sabotage dapat dihubungkan dengan konsep “nafs” atau jiwa. Nafs dalam Islam adalah bagian dari diri manusia yang dapat mendorong kepada kebaikan atau keburukan, tergantung pada tindakan dan niatnya. Berikut beberapa perspektif Islam yang dapat membantu dalam memahami dan mengatasi self sabotage: Tawakkal (Bergantung Sepenuhnya pada Allah): Islam mengajarkan untuk berusaha sekuat tenaga, namun pada saat yang sama, berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Ini mengajarkan bahwa seseorang harus melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan dan meninggalkan hasilnya kepada Allah. Dengan memiliki tawakkal, seseorang dapat mengurangi kecenderungan untuk merasa takut atau meragukan diri sendiri. Self-Reflection dan Muhasabah (Introspeksi Diri): Islam mendorong umatnya untuk selalu melakukan introspeksi diri (muhasabah). Melalui muhasabah, seseorang dapat mengevaluasi tindakan dan perilakunya, mengidentifikasi kelemahan, dan mencari cara untuk memperbaiki diri. Dengan melakukan introspeksi diri, seseorang dapat mengenali dan mengatasi self sabotage. Kepemimpinan Diri (Mujahadah): Islam mengajarkan konsep mujahadah, yang merupakan perjuangan atau usaha untuk mengatasi hawa nafs dan melakukan kebaikan. Dalam konteks self sabotage, ini dapat diartikan sebagai usaha keras untuk mengatasi kebiasaan atau perilaku merugikan diri sendiri. Doa dan Istighfar (Minta Maaf kepada Allah): Islam mengajarkan pentingnya berdoa dan meminta ampun kepada Allah. Dalam mengatasi self sabotage, doa dapat menjadi sarana untuk memohon bimbingan dan kekuatan dari Allah agar dapat melewati rintangan-rintangan yang ada. Baca juga : Keutamaan Infaq Subuh, Meraih berkah diawal pagi Strategi Mengatasi Self Sabotage dalam Karir Identifikasi dan Pahami Diri Sendiri: Langkah pertama dalam mengatasi self sabotage adalah mengidentifikasi dan memahami perilaku tersebut. Apakah itu prokrastinasi, ketidakpercayaan diri, atau keengganan untuk mengambil tanggung jawab, mengenali pola-pola ini membantu untuk menanggulanginya. Tetap Fokus pada Tujuan dan Nilai: Jelaskan tujuan dan nilai-nilai pribadi dan karir Anda. Ketika kita memiliki tujuan yang jelas, itu dapat menjadi pendorong untuk mengatasi rintangan dan menghindari perilaku sabotase diri. Berikan Dukungan Sosial: Memiliki dukungan dari teman, keluarga, atau mentor dapat membantu mengatasi self sabotage. Mereka dapat memberikan perspektif objektif, memberikan dukungan moral, dan bahkan membantu dalam menetapkan tanggung jawab dan target. Terapkan Konsep Tawakkal dan Mujahadah: Serahkan hasil usaha Anda kepada Allah (tawakkal) dan perjuangkan diri Anda untuk melakukan yang terbaik (mujahadah). Kombinasi antara tawakkal dan mujahadah dapat memberikan kekuatan dalam mengatasi self sabotage. Pelajari dari Pengalaman dan Terus Berkembang: Tidak ada kegagalan yang sepenuhnya sia-sia jika kita belajar darinya. Setiap pengalaman, baik sukses maupun kegagalan, dapat menjadi pelajaran berharga. Terus berkembang dan mencari cara untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mendekati Kesuksesan dengan Iman dan Usaha Dalam mengejar kesuksesan karir, self sabotage dapat menjadi penghalang yang signifikan. Namun, dengan pemahaman yang mendalam tentang perilaku tersebut dan penerapan nilai-nilai Islam, seseorang dapat mengatasi rintangan ini. Memandang self sabotage melalui lensa iman dan usaha adalah kunci untuk mencapai potensi maksimal dalam karir dan kehidupan. Dengan bimbingan Allah dan usaha yang konsisten, kita dapat mendekati kesuksesan dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.

Scroll to Top