Pendahuluan
Fenomena hijrah kini bukan hanya terjadi di masjid dan pesantren. Media sosial penuh dengan narasi-narasi hijrah: dari artis, influencer, hingga teman sebaya. Banyak yang memutuskan memakai hijab, meninggalkan musik, atau menutup akun Instagram lama demi memulai hidup baru yang lebih Islami. Namun, di balik semangat yang luar biasa itu, muncul satu gejala baru yang justru merusak esensi hijrah: toxic hijrah.
Toxic hijrah adalah kondisi ketika seseorang yang baru belajar Islam merasa lebih suci, lebih benar, dan mudah menghakimi orang lain. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam apa itu toxic hijrah, bagaimana ciri-cirinya, kenapa bisa terjadi, dan bagaimana cara menghindarinya. Artikel ini ditulis dengan gaya ringan, kekinian, dan tetap merujuk pada sumber Islam yang valid.
Apa Itu Toxic Hijrah?
Secara istilah, toxic hijrah belum dikenal dalam literatur klasik Islam. Istilah ini adalah istilah populer yang merujuk pada:
Sikap seseorang yang baru atau sedang dalam proses hijrah, tapi menunjukkan perilaku merendahkan orang lain, merasa paling benar, dan memaksakan pandangan agamanya kepada orang lain tanpa ilmu dan hikmah.
Fenomena ini banyak ditemukan di media sosial, grup kajian, bahkan dalam komunitas hijrah. Misalnya:
- Menghina orang yang belum berhijab dengan kata-kata kasar
- Merasa ibadah orang lain tidak sah kalau tidak sesuai dengan standar kelompoknya
- Menyindir terang-terangan lewat status, komentar, atau konten dakwah
Padahal, esensi hijrah adalah menuju perbaikan diri, bukan memperburuk akhlak.
Dalil Tentang Sikap Lembut dalam Berdakwah
Islam sangat menganjurkan berdakwah dengan hikmah dan kelembutan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Dua ayat ini menjadi dasar penting bahwa dakwah dan semangat hijrah harus dibungkus dengan akhlak mulia.
Ciri-Ciri Toxic Hijrah yang Harus Diwaspadai
1. Merasa Paling Benar dan Meremehkan Orang Lain
Orang yang baru mengenal Islam kadang terlalu bersemangat, hingga tanpa sadar menganggap diri paling benar. Misalnya:
- “Kalau belum ikut kajian sunnah, berarti ilmunya masih sesat.”
- “Yang belum pakai cadar belum sempurna hijrahnya.”
Padahal, hanya Allah yang berhak menilai keimanan seseorang.
2. Menebar Kebencian dengan Dalih Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Amar ma’ruf nahi munkar adalah ajaran Islam. Namun jika dilakukan dengan kasar, menyindir, atau mempermalukan orang lain, maka itu bukan amar ma’ruf, tapi amar marah.
Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan. Bahkan kepada orang kafir dan musyrik sekalipun, beliau tetap lemah lembut.
3. Memaksakan Pemahaman Sendiri
Tidak semua perbedaan dalam Islam harus dijadikan permusuhan. Perbedaan fiqih antara ulama itu hal biasa. Namun, toxic hijrah sering memaksakan satu madzhab atau pendapat saja.
Contoh:
- “Kamu salah, shalatmu nggak sah karena nggak pakai qunut.”
- “Zikirnya nggak sesuai sunnah, haram!”
4. Menganggap Diri Sudah ‘Selesai’ dan Tak Mau Belajar Lagi
Karena merasa sudah berubah, sebagian orang menjadi anti kritik. Padahal, ilmu agama itu terus bertumbuh.
“Siapa yang merasa cukup dengan ilmunya, maka dia telah tertipu.” – Imam Syafi’i
Penyebab Munculnya Toxic Hijrah
1. Kurang Ilmu, Lebih Banyak Emosi
Orang yang baru belajar Islam cenderung terbakar semangat, namun belum punya kedalaman ilmu. Akhirnya banyak bicara, tapi sedikit memahami.
2. Dakwah yang Kurang Hikmah
Sebagian komunitas dakwah mengajarkan Islam dengan keras. Alih-alih menyejukkan, justru membuat anggota merasa eksklusif dan gemar menyalahkan yang lain.
3. Ingin Validasi dan Diakui ‘Suci’
Banyak yang hijrah karena ingin terlihat baik di mata manusia, bukan karena Allah. Sehingga yang dicari adalah pujian dan pengakuan.
“Barang siapa melakukan amal karena ingin dilihat orang, maka dia telah berbuat syirik kecil.” (HR. Ahmad)
Dampak Buruk Toxic Hijrah
- Menjauhkan Orang dari Islam Banyak orang yang sebenarnya ingin belajar, tapi takut karena dakwah yang menyeramkan.
- Menjadikan Umat Terpecah Alih-alih menyatukan, toxic hijrah justru memecah umat dengan sikap merasa paling benar.
- Membuat Diri Sendiri Terjebak dalam Kesombongan Orang yang merasa dirinya paling benar akan sulit menerima masukan. Ini berbahaya bagi pertumbuhan iman.
Baca Juga : Kenapa Banyak Orang Gagal Istiqamah Setelah Hijrah? Ini Jawaban dan Solusinya
Cara Menghindari Toxic Hijrah
1. Perbanyak Ilmu, Bukan Hanya Emosi
Belajar Islam harus dari sumber yang benar: Al-Qur’an, hadis sahih, dan ulama yang lurus.
Rekomendasi platform belajar:
- YouTube: Yufid TV, Kajian Ust. Badrusalam, Adi Hidayat
- Buku: Tazkiyatun Nafs karya Imam Al-Ghazali, Bekal Hijrah oleh Salim A. Fillah
2. Fokus Memperbaiki Diri, Bukan Menghakimi Orang
Setiap orang punya timeline hijrahnya sendiri. Tugas kita bukan menyindir, tapi mendoakan.
3. Perbanyak Dzikir dan Muhasabah
Hijrah adalah proses batin. Dzikir, doa, dan introspeksi akan melembutkan hati.
4. Bersikap Lemah Lembut dan Sabar
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, kecuali akan memperindahnya.” (HR. Muslim)
“Dulu saya baru ikut kajian sunnah, langsung merasa yang lain salah semua. Saya bahkan marah ke orang tua sendiri karena beda pemahaman. Tapi makin belajar, saya sadar… yang paling penting itu akhlak. Sekarang saya lebih pelan-pelan dan berusaha jadi contoh yang baik, bukan jadi hakim untuk orang lain.” — Fulan , 28 tahun
Penutup: Hijrah Itu Indah, Jangan Dirusak dengan Kesombongan
Hijrah adalah anugerah. Jangan dikotori dengan merasa paling suci. Allah mencintai hamba yang rendah hati dan terus memperbaiki diri. Jika kita melihat orang lain belum berubah, jangan langsung menghakimi. Mungkin ia sedang berjuang dengan cara yang berbeda. Tugas kita bukan mengadili, tapi menginspirasi.
Mari terus belajar dan memperbaiki diri. Sebarkan Islam dengan cinta, bukan kebencian.
Referensi dan Sumber Valid:
- Al-Qur’an: QS. Ali-Imran:159, QS. An-Nahl:125
- Hadis riwayat Muslim, Ahmad
- Kitab Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
- Buku Tazkiyatun Nafs – Imam Al-Ghazali
- Kajian Ust. Adi Hidayat: “Hijrah Itu Lembut Bukan Keras”
- Buku Bekal Hijrah – Salim A. Fillah
