Ketika BPJS Tak Aktif dan Persalinan Sudah di Depan Mata, LAZISNUR Hadir Mendampingi
Ketika BPJS Tak Aktif dan Persalinan Sudah di Depan Mata, LAZISNUR Hadir Mendampingi
Kisah IbSiu ti Istikomah — dari kekhawatiran menjelang kelahiran hingga tangis pertama sang buah hati, dikawal dari penjemputan sampai pemulihan.
🗓️ 18–24 September 2026
✍️ Redaksi LAZISNUR
Menjelang Persalinan, Justru Diliputi Kekhawatiran
Bogor — Menjelang persalinan seharusnya menjadi momen yang dinanti setiap keluarga. Namun bagi Ibu Siti Istikomah, warga Kp. Bedahan 2, Kelurahan Pabuaran Mekar, Kecamatan Cibinong, momen itu justru diliputi kekhawatiran.
💼 Suami bekerja serabutan, penghasilan tak menentu
👧👦 Dua anak masih menjadi tanggungan
⚠️ Kepesertaan BPJS Kesehatan tidak aktif
Kepesertaan BPJS Kesehatannya tidak aktif, sementara kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas — suaminya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, dan dua anak masih menjadi tanggungannya. Di tengah kondisi itu, hari kelahiran terus mendekat.
Melalui Asesmen, Siti Dinyatakan Berhak Didampingi
Kondisi inilah yang membuat tim LAZISNUR bergerak cepat. Setelah melalui proses asesmen, Siti dinyatakan berhak menerima pendampingan dari program Kesehatan LAZISNUR, mengingat:
Kehamilannya telah memasuki masa persalinan — kondisi yang tidak bisa menunggu
Keluarganya masuk kategori asnaf fakir/miskin — pihak yang memang menjadi sasaran utama penyaluran zakat
ℹ️ Mengapa BPJS tak aktif bisa jadi soal genting? Layanan besar seperti operasi persalinan memerlukan jaminan yang aktif. Tanpa itu, keluarga harus menanggung biaya penuh sendiri — dan persalinan yang mendesak berisiko tertunda hanya karena persoalan administrasi.
Dijemput Ambulans, Diantar ke Rumah Sakit
Pada 18 September 2026, LAZISNUR menugaskan relawan pendamping, Ibu Apriyanti, untuk mengawal proses ini dari awal hingga akhir. Siti dijemput dari kediamannya menggunakan Ambulans LAZISNUR–APPI dan dibawa ke Rumah Sakit Trimitra, Cibinong, untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Siti membutuhkan persalinan melalui operasi caesar, sesuai kondisi kehamilan dan bayinya. Di titik inilah tantangan sesungguhnya dimulai: bagaimana memastikan layanan medis bisa diakses, sementara BPJS Kesehatan yang menjadi jaminan utama justru tidak aktif.
Ibu Apriyanti membantu mengurus proses pengaktifan kembali BPJS Siti, sementara LAZISNUR menanggung biaya yang diperlukan agar kepesertaan tersebut dapat kembali digunakan dalam pelayanan kesehatan.
Tanpa langkah ini, proses persalinan yang mendesak berisiko tertunda oleh kendala administrasi yang seharusnya bisa diselesaikan lebih awal.
Dari Penjemputan hingga Ruang Perawatan
Kondisi keluarga diverifikasi; Siti dinyatakan berhak menerima pendampingan program Kesehatan LAZISNUR.
Ambulans LAZISNUR–APPI menjemput Siti dari kediamannya menuju RS Trimitra, Cibinong, dikawal Ibu Apriyanti.
Dokter memutuskan persalinan perlu operasi caesar. Pengaktifan kembali BPJS diurus — biayanya ditanggung LAZISNUR.
Selasa pagi, operasi berjalan dan bayi lahir dengan selamat. Bayi menunjukkan kondisi kuning (jaundice) — perlu perawatan lanjutan.
Hingga berita ini ditulis, Siti dan bayinya masih menjalani perawatan sesuai arahan dokter — dan LAZISNUR terus memantau hingga pemulihan tuntas.
Operasi Caesar dan Hari-Hari Setelahnya
Selasa, 22 September 2026, Siti menjalani operasi caesar. Bayinya lahir dengan selamat, namun masih mengalami kondisi kuning (jaundice) — kondisi yang lazim pada bayi baru lahir, namun tetap membutuhkan pemantauan dan perawatan medis lanjutan. Hingga 24 September 2026, Siti dan buah hatinya masih menjalani perawatan di rumah sakit sesuai arahan dan pantauan dokter.
Sepanjang proses ini, dukungan yang diberikan LAZISNUR tidak berhenti pada satu bentuk bantuan saja:
Mengantar-jemput pasien dari rumah ke rumah sakit
Hadir langsung di lapangan, dari penjemputan hingga perawatan
Proses yang rumit bagi keluarga awam, dikawal sampai selesai
Penopang utama saat keluarga tidak mampu menanggungnya sendiri
“Kami hadir bukan hanya untuk memberi bantuan, tapi untuk memastikan tidak ada ibu yang harus menghadapi persalinannya sendirian karena keterbatasan biaya.”
Manfaat yang Sampai kepada yang Membutuhkan
⟶
4 Jiwa
+
👶 1 Bayi Baru Lahir
=
💚 5 Jiwa
Total penerima manfaat dari implementasi program ini adalah 1 Kepala Keluarga yang terdiri dari 4 jiwa, ditambah satu bayi yang baru lahir — lima jiwa yang kini bisa bernapas lega karena beban biaya persalinan dan aktivasi BPJS telah diringankan.
Kisah Siti adalah gambaran nyata bagaimana zakat, infak, dan sedekah yang dipercayakan para donatur kepada LAZISNUR benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, tepat pada saat yang paling genting. Bukan sekadar bantuan finansial, tetapi kehadiran yang utuh:
→
🤝 Pendampingan di RS
→
🗂️ Pengurusan administrasi
→
💚 Dukungan biaya pengobatan
→
🌱 Pemulihan yang dikawal
🩺 LAZISNUR akan terus memantau kondisi Siti dan bayinya hingga proses pemulihan benar-benar tuntas — sebagai komitmen lembaga untuk mengawal setiap penerima manfaat sampai kondisinya benar-benar pulih, bukan hanya sampai bantuan diberikan.
Masih Ada Ibu-Ibu Lain yang Menunggu Pertolongan yang Sama
Mari terus bersama LAZISNUR menghadirkan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Setiap donasi Anda menjadi jalan bagi ibu-ibu seperti Siti untuk melewati masa persalinan dengan tenang dan penuh dukungan.
💚 Salurkan Donasi untuk Program Kesehatan
Tersalurkan melalui program-program Lazisnur • zakat, infak & sedekah Anda amanah dan tepat sasaran
💬 Informasi pendampingan kesehatan via WhatsApp
#SahabatBerbagi
#ProgramKesehatan
#PendampinganPersalinan
#ZakatUntukSesama
