Di Era Notifikasi dan Scrolling, Kita Bukan Kekurangan Waktu—Kita Kehilangan Waktu
Di Era Notifikasi dan Scrolling, Kita Bukan Kekurangan Waktu — Kita Kehilangan Waktu
Belajar dari para ulama salaf tentang bagaimana menjaga waktu, memilih prioritas, dan menjadikan setiap hari lebih bermakna
📚 Kisah ulama salaf
✅ 5 pelajaran praktis
Kita Semua Punya 24 Jam
Pernah merasa satu hari berlalu begitu saja?
Pekerjaan memang ada yang selesai. Tetapi ketika malam datang, muncul pertanyaan yang jujur agak menohok:
🌙 “Sebenarnya hari ini saya sudah melakukan apa saja?”
Ironisnya, kita hidup di zaman dengan begitu banyak alat bantu mengatur waktu — kalender digital, to-do list, reminder, aplikasi produktivitas, bahkan kecerdasan buatan. Tetapi tetap saja banyak dari kita merasa waktu tidak pernah cukup.
Padahal, para ulama terdahulu hidup dengan jatah yang persis sama dengan kita: 24 jam sehari — tanpa notifikasi, tanpa media sosial, tanpa algoritma yang bekerja siang-malam untuk merebut perhatian mereka. Lalu bagaimana mereka bisa menghasilkan begitu banyak karya, ilmu, dan kebaikan dari waktu yang jumlahnya sama dengan kita?
Masalah Sebenarnya Bukan Selalu Kurang Waktu
Sering kali yang kita rasakan sebagai “kekurangan waktu” sebenarnya adalah kehilangan arah dalam menggunakannya. Bukan berarti setiap menit harus diisi pekerjaan. Yang jadi persoalan adalah ketika waktu habis untuk hal-hal yang tidak direncanakan, tidak memberi manfaat berarti, dan bahkan tidak kita ingat lagi keesokan harinya.
Coba bandingkan:
membaca sesuatu yang bermanfaat
scrolling tanpa tujuan
Secara angka, sama-sama 30 menit. Tetapi nilai dari keduanya jauh berbeda.
Islam memandang waktu bukan sekadar aset produktivitas, melainkan bagian dari umur itu sendiri. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
HR. AL-BUKHARI NO. 6412
Kata “tertipu” (maghbūn) dalam hadis ini menarik untuk direnungkan.
Ibnul-Khazin menjelaskan bahwa tertipu di sini seumpama orang yang membeli dengan harga jauh lebih mahal, atau menjual jauh di bawah harga sepantasnya — ia rugi tanpa sadar.
Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih Bukhari (Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd, 2003, jilid X, hlm. 146) menyebutkan bahwa hadis ini adalah pesan Nabi ﷺ tentang betapa besarnya nikmat Allah yang tersimpan dalam dua hal yang tampak sederhana: kesehatan dan waktu luang.
Syekh Abdurrahman al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’it Tirmidzi (jilid VI, hlm. 485) menjelaskan bahwa kebanyakan manusia tidak menyadari nilai dua nikmat ini karena keduanya terasa begitu biasa dan mudah didapat, sehingga mereka justru menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Akibatnya, ketika kesehatan memudar atau waktu luang telah berlalu, penyesalan itu datang terlambat.
Para Ulama Salaf dan Cara Mereka Memandang Waktu
🏛️ Darul Basya’ir al-Islamiyyah, Beirut
📄 cet. ke-15, 1433 H/2012 M • 395 hlm
Ada satu kitab yang secara khusus membahas tema ini secara mendalam. Dalam pengantarnya, Syekh Abdul Fattah menuliskan bahwa kitab ini adalah hasil telaah selama 20 tahun terhadap ratusan kitab dari berbagai disiplin ilmu: tafsir, hadis, fikih, sejarah (tarikh), biografi ulama, geografi, bahasa, hingga akhlak. Semua itu beliau himpun, seleksi, dan susun ulang menjadi kumpulan kisah nyata tentang bagaimana para ulama menghargai dan mengelola waktu mereka (hlm. 13–20).
Salah satu poin penting yang beliau tekankan: di antara pokok nikmat — keimanan, kesehatan, dan ilmu — nikmat yang paling agung justru adalah waktu. Sebab waktu adalah usia kehidupan itu sendiri: medan tempat manusia berbuat, memberi manfaat, dan dimanfaatkan oleh orang lain (hlm. 28–30).
Dari telaahnya, beliau mencatat bagaimana para ulama mengoptimalkan waktu untuk ilmu bahkan di saat-saat yang tampak sepele: sambil makan, berjalan, mandi, bahkan hingga menjelang wafat pun mereka masih membahas persoalan agama. Dari kitab ini dan sumber-sumber sejarah lain, ada beberapa pola yang bisa kita ambil sebagai pelajaran.
Salah satu benang merah dalam kisah-kisah ulama salaf adalah bagaimana mereka memanfaatkan waktu sela — saat menunggu, dalam perjalanan, bahkan saat menanti majelis dimulai — untuk membaca, mengulang hafalan, atau berdiskusi ilmu. Bagi mereka, tidak ada waktu yang benar-benar “kosong”; yang ada hanyalah waktu yang belum diisi dengan sesuatu yang bermanfaat.
⚖️ Bandingkan dengan kondisi kita hari ini: kita punya “waktu kosong” yang jauh lebih banyak — menunggu antrean, menunggu kendaraan, jeda di sela rapat — tetapi waktu itu hampir otomatis diserahkan begitu saja kepada layar ponsel.
Produktif tidak sama dengan sibuk. Para ulama memiliki prioritas yang jelas: ilmu, ibadah, mengajar, menulis, berdakwah, dan menunaikan kewajiban kepada keluarga. Semua aktivitas mereka bergerak mengarah pada prioritas itu, bukan sekadar mengisi jadwal agar terlihat sibuk.
⚖️ Hari ini kita sering membuat daftar tugas yang panjang, tetapi jarang bertanya: dari semua ini, mana yang benar-benar bernilai?
Ini yang paling menonjol dari jejak para ulama salaf: mereka meninggalkan kitab, ilmu, murid, dan amal yang terus mengalir manfaatnya jauh setelah mereka wafat. Produktivitas mereka tidak berhenti pada “hari ini saya sibuk”, tetapi sampai pada “hari ini ada sesuatu yang bertambah karena saya hidup.”
Ada ungkapan masyhur yang sering dinisbahkan kepada Imam Syafi’i — meski riwayatnya diperdebatkan para peneliti, maknanya tetap layak direnungkan:
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك
“Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia yang akan memotongmu.” ⚔️
Ungkapan ini bahkan menjadi pegangan hidup sejumlah ulama Nusantara. KH MA Sahal Mahfudz, misalnya, dikenal sangat disiplin terhadap waktu dan mengamalkan betul falsafah ini dalam keseharian, sebagaimana dicatat dalam buku Belajar dari Kiai Sahal.
Bayangkan Jika Ulama Salaf Hidup di Era Notifikasi
Ini bukan untuk berspekulasi secara pasti tentang apa yang akan mereka lakukan, tetapi bisa jadi bahan refleksi yang jujur.
Hari ini, perhatian kita diperebutkan oleh notifikasi, algoritma, video pendek, grup percakapan, email, dan berbagai aplikasi lainnya. Setiap bunyi notifikasi seolah berkata, “Lihat saya.” Sementara waktu terus berjalan tanpa peduli apakah kita sedang fokus atau tidak.
Barangkali masalah terbesar era digital bukan kurangnya informasi, melainkan terlalu banyak hal yang meminta perhatian kita secara bersamaan. Al-Qur’an mengingatkan hal ini jauh sebelum era digital ada, dalam surah yang singkat namun sangat dalam maknanya:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.”
QS. AL-‘ASHR: 1–3
Imam Syafi’i bahkan pernah berkomentar tentang surah ini:
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ
“Seandainya manusia benar-benar merenungkan surah ini, niscaya sudah cukup bagi mereka sebagai pedoman hidup.”
— dinukil dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, jilid 30, hlm. 528
Diriwayatkan pula oleh Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dan Imam al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab al-Iman, bahwa dua orang sahabat Nabi ﷺ memiliki kebiasaan saling membacakan surah Al-‘Ashr setiap kali bertemu, sebelum akhirnya mereka berpisah dan mengucapkan salam — sebuah pengingat rutin akan nilai waktu di tengah kesibukan mereka.
Lima Pelajaran Praktis dari Ulama Salaf
Artikel ini tidak ingin berhenti hanya sebagai kisah. Berikut lima pelajaran yang bisa langsung dipraktikkan.
Saat menunggu, isi dengan hal kecil yang bermakna: membaca beberapa halaman, berzikir, mendengarkan kajian singkat, mencatat ide, atau sekadar mengevaluasi hari. Tidak harus selalu produktif secara pekerjaan — yang penting, waktu itu tidak lewat begitu saja tanpa jejak.
Ganti pertanyaan “hari ini saya mau melakukan sebanyak mungkin” dengan “apa 1–3 hal paling penting yang harus saya selesaikan hari ini?” Prioritas yang jelas membuat energi dan waktu tidak habis untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda.
Bukan berarti harus meninggalkan teknologi. Gunakan teknologi sebagai alat, bukan biarkan ia yang mengatur perhatian kita. Beberapa langkah sederhana:
✅ Tentukan jam khusus membuka media sosial
✅ Jangan memulai pagi dengan scrolling
✅ Sisihkan waktu khusus untuk membaca atau belajar
Ganti pertanyaan malam hari dari “seberapa sibuk saya hari ini?” menjadi: apa yang hari ini saya pelajari, apa yang hari ini saya kerjakan, dan siapa yang mendapat manfaat dari keberadaan saya hari ini?
إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيكَ، فَاعْمَلْ فِيهِمَا
Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah: “Sesungguhnya malam dan siang terus bekerja mengurangi umurmu, maka bekerjalah (berkaryalah) pada keduanya.”
Ilmu yang diajarkan, sedekah yang diberikan, orang yang dibantu, anak yang mendapat pendidikan, air yang dialirkan kepada yang membutuhkan, masjid yang dibangun — semua itu adalah kebaikan yang terus mengalir meski kita sudah tiada. Produktivitas seorang Muslim tidak berhenti pada seberapa banyak yang ia selesaikan, tetapi juga seberapa banyak manfaat yang ia tinggalkan.
Sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pernah mengungkapkan penyesalan yang sangat dalam tentang waktu yang berlalu tanpa amal:
مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ، نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزِدْ فِيهِ عَمَلِي
“Tidak ada penyesalanku yang lebih besar daripada penyesalan atas hari yang telah terbenam mataharinya, berkurang umurku karenanya, namun amalku tidak bertambah sedikit pun di dalamnya.”
Sementara itu, tabi’in besar Al-Hasan Al-Bashri pernah menasihatkan sesuatu yang menohok tentang hakikat waktu, sebagaimana dinukil dalam Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai Bani Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari telah berlalu, maka telah berlalu pula sebagian dari dirimu.”
Setiap hari yang lewat sebenarnya adalah sebagian dari umur kita yang tidak akan pernah kembali.
Kembali ke Pertanyaan Awal
Kita semua mendapat jatah yang sama: 24 jam. Tidak ada manusia yang bisa membeli tambahan satu jam pun dari hari kemarin.
Teknologi bisa membuat kita bekerja lebih cepat. Kecerdasan buatan bisa membantu menyelesaikan pekerjaan. Kalender bisa mengingatkan jadwal. Tetapi tidak ada satu pun teknologi yang bisa mengembalikan waktu yang sudah hilang.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “bagaimana saya mendapatkan lebih banyak waktu?”, melainkan:
“Untuk apa saya menggunakan waktu yang sudah Allah berikan?”
Karena pada akhirnya, yang kita miliki bukanlah waktu —
kita sedang menghabiskan umur.
Semoga setiap waktu yang kita miliki tidak hanya berlalu, tetapi berubah menjadi ilmu, ibadah, dan manfaat bagi sesama. 🤲
💝 Jadikan waktumu bermakna — kenali program kebaikan LAZISNUR
