Ketika Gaji Membiayai Hidup, tetapi Validasi Sosial Menentukan Gaya Hidup

OPINI • GAYA HIDUP & FINANSIAL ISLAM

Ketika Gaji Membiayai Hidup, tetapi Validasi Sosial Menentukan Gaya Hidup

“Ada satu bentuk kemiskinan yang tidak selalu terlihat dari saldo rekening. Namanya: keharusan untuk terlihat mampu.”

📅 17 September 2026
⏱ ± 8 menit baca
✏ Redaksi Lazisnur

Kita hidup di kota yang membuat standar kehidupan semakin mudah dilihat. Setiap hari, mata kita disodori “prestasi barang” orang lain:

🌅
PAGI
orang berangkat kerja dengan kendaraan terbaru

☀️
SIANG
teman makan di restoran yang sedang viral

🌇
SORE
orang lain bekerja dari coffee shop

🌙
MALAM
Instagram: staycation, gadget baru, konser, luar negeri

GAJI MASUK
+
TAGIHAN KELUAR
Dan entah bagaimana, hidup orang lain terasa lebih jauh di depan.

Manusia modern tidak hanya membeli barang karena butuh — kita juga membeli karena ingin diakui:

Kita tidak hanya ingin punya pakaian bagus — kita ingin terlihat punya selera.
Tidak hanya ingin makan — kita ingin terlihat punya kehidupan yang menarik.
Tidak hanya ingin memiliki kendaraan — kita ingin kendaraan itu menjadi simbol hidup yang “berhasil”.
Tidak hanya ingin berlibur — kita ingin ada bukti bahwa kita pernah sampai di sana.

Kesimpulannya
Konsumsi tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi.
Ia menjadi bahasa sosial.

📱 BAGIAN 01

Kita Hidup dalam Ekonomi Perhatian

Media sosial membuat kehidupan orang lain hadir hampir tanpa jeda. Yang muncul di layar biasanya bukan keseluruhan kehidupan seseorang, melainkan bagian yang memang layak ditampilkan. Masalahnya, manusia kemudian membandingkan kehidupan lengkapnya sendiri dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

🧪 RISET • MAHASISWA INDONESIA
Aspek interdependent self-construal berhubungan dengan kecenderungan melakukan perbandingan sosial di media sosial.

🧪 RISET • PENGGUNA INSTAGRAM (INDONESIA)
Hubungan negatif signifikan antara social comparison dan self-esteem — meski efeknya tergolong kecil.

Jadi bukan sesederhana “Instagram membuat semua orang insecure“. Ada mekanisme yang lebih halus:

👀 melihat
⚖️ membandingkan
🔎 mengevaluasi diri
💔 merasa kurang
🛒 membeli

📊 BAGIAN 02

Gaji Riil Bertemu Gaya Hidup yang Tidak Riil

BPS • AGUSTUS 2025
Rp 3,62 jt
rata-rata gaji bersih buruh/karyawan/pegawai di perkotaan per bulan

SNLIK 2025 OJK-BPS • UMUM
80,51% vs 66,46%
inklusi keuangan jauh melampaui literasi — kita lebih mahir mengakses daripada memahami

SNLIK 2025 • SYARIAH
43,42% vs 13,41%
literasi vs inklusi keuangan syariah — ruang edukasi yang masih sangat besar

Teknologi finansial bisa menjadi alat produktif — tetapi juga bisa menjadi jembatan antara keinginan hari ini dan beban finansial hari esok. Paylater adalah contoh paling jelas. Syah Amelia Manggala Putri, dosen ekonomi syariah UMY, menjelaskan mekanisme “beli sekarang, bayar nanti” membuat konsumen meremehkan beban masa depan dan meningkatkan kecenderungan impulse buying.

“Utang tidak menghilangkan harga sebuah barang. Ia hanya memindahkan kapan harga itu terasa.”

👀 BAGIAN 03

Dari “Ingin” Menjadi “Harus”

Seseorang membeli sepatu seharga Rp1,5 juta. Pertanyaannya bukan hanya “Apakah dia mampu membeli?” — tetapi “Mengapa dia merasa harus membeli?” Karena sepatu lama rusak? Tuntutan pekerjaan? Menyukai desainnya? Atau karena teman-temannya sudah memakai merek itu?

“Biar nggak ketinggalan.”
“Biar kelihatan sukses.”
“Biar bisa masuk circle.”
“Biar nggak dianggap biasa-biasa saja.”

Inilah yang membuat validasi sosial menjadi mahal. Kita mulai membayar bukan hanya barangnya — kita membayar identitas yang ingin kita tampilkan melalui barang tersebut.

🖔 BAGIAN 04

Lalu, Bagaimana Islam Melihat Persoalan Ini?

Islam tidak melarang menikmati harta. Seorang Muslim tidak wajib miskin, boleh memiliki barang bagus, boleh hidup nyaman. Persoalannya adalah bagaimana manusia menempatkan harta dalam kehidupannya.

🍃
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.”
QS. AL-A’RAF : 31
Kajian etika konsumsi juga menghubungkan QS. Al-Isra’ 26–27 (tabdzir/pemborosan) sebagai kritik terhadap budaya konsumerisme modern.

PERTANYAAN BUDAYA KONSUMTIF
“Apa yang bisa saya beli?”

PERTANYAAN YANG DITAWARKAN ISLAM
“Untuk apa harta ini saya gunakan?”

Bahkan soal utang tidak sesederhana “utang = haram”. MUI menjelaskan kredit perlu dilihat dari akad dan unsur transaksinya; dalam pembahasan paylater, hukumnya bergantung pada mekanisme dan kesesuaian dengan prinsip syariah — bila ada tambahan yang disyaratkan dalam utang, unsur riba menjadi persoalan. Islam tidak anti-gaya hidup. Islam anti kehilangan kendali.

PERTANYAAN YANG SEBENARNYA
“Apakah saya masih mengendalikan harta, atau justru harta dan pengakuan sosial yang mulai mengendalikan saya?”

🏙️ BAGIAN 05

Tragedi Perkotaan yang Sesungguhnya

Tragedinya bukan ketika seseorang hidup sederhana — tetapi ketika ia tidak lagi nyaman hidup sederhana karena takut terlihat gagal.

Rp 7 jt
terasa kurang karena standar Rp12 jt terlihat normal

Rp 12 jt
terasa kurang karena Rp20 jt terlihat biasa

Rp 20 jt
pun terasa kurang saat terus dibandingkan ke atas

Tidak ada angka yang mampu menyelesaikan masalah jika ukuran “cukup” selalu ditentukan oleh kehidupan orang lain. Persoalannya bukan sekadar berapa besar gaji kita:

“Siapa yang menentukan standar hidup kita?”

🌱 BAGIAN 06

Qana’ah Bukan Berarti Berhenti Berkembang

Qana’ah sering disalahpahami sebagai pasrah: “Ya sudah, segini saja.” Padahal qana’ah tidak harus berarti berhenti mengejar kehidupan yang lebih baik:

✓ Tetap boleh meningkatkan penghasilan
✓ Tetap boleh memiliki rumah & kendaraan
✓ Tetap boleh membangun bisnis
✓ Tetap boleh bercita-cita kaya

Tetapi kekayaan tidak harus menjadi alat untuk membuktikan harga diri. Ketika harga diri bergantung pada apa yang dimiliki, semakin banyak yang dimiliki belum tentu semakin tenang. Ketika harta ditempatkan sebagai amanah, orientasinya berubah:

DARI…
“Lihat, saya berhasil.”

…MENJADI
“Apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang Allah titipkan kepada saya?”

⭐ BAGIAN 07

Mungkin Kita Butuh Definisi Baru tentang “Kaya”

Kaya bukan hanya ketika mampu membeli sesuatu. Kaya juga ketika mampu berkata: “Saya tidak perlu membeli ini.”

Ketika sebuah tren muncul, kita mampu melewatinya tanpa merasa tertinggal.
Ketika teman membeli gadget baru, harga diri kita tidak ikut turun karena masih memakai yang lama.
Ketika kita mampu makan sederhana tanpa merasa hidup kita gagal.
Ketika kita punya uang tetapi tidak merasa harus menunjukkannya.
Ketika penghasilan membesar, tetapi standar kebahagiaan kita tidak otomatis ikut menjadi lebih mahal.

🌍 PENUTUP

Kota akan terus bergerak. Tren akan terus berganti. Algoritma akan terus menunjukkan kehidupan orang lain. Gaji mungkin naik, dan teknologi akan membuat semakin banyak hal terasa mudah dibeli.

Kedewasaan finansial seorang Muslim dimulai ketika mampu membedakan tiga hal:
apa yang saya butuhkan
apa yang saya inginkan
apa yang hanya saya beli agar merasa diterima

Sebab tidak semua yang terlihat seperti keberhasilan adalah kesejahteraan — dan tidak semua kehidupan sederhana adalah kegagalan.

“Barangkali, salah satu bentuk kebebasan paling mahal di kota hari ini adalah: mampu hidup sesuai kemampuan, tanpa merasa perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun.”

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *